Ulama Indonesia untuk Dunia
Materi Pelajaran, Pendidikan Agama Islam

Ulama Indonesia untuk Dunia

Ulama Indonesia untuk Dunia – Kelas 11, PAI, BAB 5, Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia.


Indonesia merdeka tidak lepas dari peran para Ulama Indonesia. Banyak sekali nama-nama yang dapat kita sodorkan dan menjadi pengingat tentang jejak mereka dalam memerdekakan Indonesia, yang sudah kita kenal, antara lain: Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, dan lain sebagainya.

Namun kali ini, yang akan disajikan adalah para Ulama Indonesia yang tidak hanya memberi sumbangsih besar untuk Indonesia, tetapi mewarnai wajah dunia sampai saat ini. Mereka itu, antara lain: Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani, Nuruddin bin Ali ar-Raniri, Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, Hamzah al-Fansuri. Mari kita urai jejak dan langkahnya satu per satu.

a. Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani

Nawawi Al-Bantani | Wikipedia

1. Riwayat Hidupnya

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Dikenal juga dengan nama Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Lebih terkenal dengan nama Syekh atau Imam Nawawi Banten. Ayahnya adalah Umar bin Arabi yang merupakan seorang ulama di Banten.

Dikisahkan juga, bahwa Syekh Nawawi masih keturunan dari Sunan Gunung Jati (salah satu Wali Songo) dari Sultan Banten I, yakni Maulana Hasanuddin. Imam Nawawi juga dikabarkan masih memiliki jalur nasab dari Sayyidina Husein r.a, salah satu cucu Rasulullah Saw. selain Sayyidina Hasan r.a.

Sebutan al-Jawi, menunjukkan bahwa beliau berasal dari Pulau Jawa, sebab Banten menjadi bagian dari Pulau Jawa. Namun, di seantero dunia, beliau diberi gelar Sayyidul Hijaz (Maha Guru Jazirah Arab, Saudi Arabia sekarang). Kebesaran nama Imam Nawawi sepadan dengan Imam Syafi’i (salah satu tokoh madzhab, sehingga dikenal dengan Madzhab Syafi’i).

Beliau dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada ahun 1815 Masehi, atau 1230 Hijriah, dan beliau wafat pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah, atau 1897 Masehi. Imam Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 84 tahun.

Di Makkah, Imam Nawawi giat menghadiri majelis-majelis ilmu, khususnya di Masjidil Haram. Hingga, setelah dilihat kedalaman ilmu (Faqih) oleh imam masjid utama tersebut, yakni Syekh Ahmad Khatib Sambas (ini juga tokoh Indonesia yang kaliber dunia) memintanya untuk menggantikan posisinya.

Mulailah Imam Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelis ilmu sendiri di Masjidil Haram. Semakin hari, murid atau santrinya semakin banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia juga, yakni Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nadlatul Ulama (NU).

Imam Nawawi Banten merupakan putra pertama Nusantara Indonesia yang menjadi Imam Masjidil Haram, dan mendapat gelar “Sayyidul Hijaz”.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Syekh Nawawi pernah menjadi imam di Masjidil Haram, mengajar di Haramain (sebutan lain dari Makkah Madinah), dan karya-karyanya tersebar juga di Timur Tengah. Di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dunia pesantren, karya-karyanya masih dipelajari, dikaji, dan ditelaah, bahkan sampai kini menjadi kurikulum tetap di pesantren.

Gelar Sayyidul Hijaz bukan sembarang gelar, dan itu diperoleh di wilayah Timur Tengah, tepatnya di seputar Jazirah Arab (Makkah-Madinah saat itu), dan Masjidil Haram, khususnya Ka’bah yang menjadi jantung atau pusatnya ajaran Islam. Hal ini, menjadikan kita sebagai bangsa Indonesia, merasa bangga dan kagum atas capaian yang diperoleh oleh beliau. Sebab itu, kalian sebagai generasi penerus dapat mencontoh jejak dan langkah Imam Nawawi.

3. Karya Tulisnya

Sejak tahun 1870 M, kesibukan Imam Nawawi semakin bertambah, karena harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis, lebih banyak datang dari desakan sebagian koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami.

Alasan menulis syarh, selain karena permintaan pihak lain, Imam Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (tahrif) dan pengurangan. Saat menyusun karyanya, beliau selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, termasuk sebelum naskahnya naik cetak. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia, karena karya-karyanya mudah dipahami dan mendalam isinya.

Karya tulis beliau banyak yang diterbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirimkan manuskripnya, setelah itu tidak memperdulikan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum Pendidikan Agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah.

Karya Imam Nawawi berjumlah 115, dan sampai saat ini masih dipelajari bukan hanya di wilayah Asia Tenggara, tetapi juga di kawasan Timur Tengah.

Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Imam Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya.

Tepat tahun 1870 M, para ulama Universitas Al-Azhar Kairo Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia. Semua karya beliau, berbahasa Arab.

Bagi para murid/santri yang pernah sekolah (mondok) di pesantren, tentu karya atau kitab yang disusun oleh Syekh Nawawi sudah pernah dipelajari. Berikut ini, 10 nama kitab karya beliau dari total karya beliau yang berjumlah 115 yang mengupas tentang Fiqh, Tasawuf, Tafsir, dan Hadis, yaitu:

  1. Sullam al-Munājah syarah Safīnah al-Shalāh.
  2. Bahjah al-Wasāil syarah al-Risālah al-Jāmi’ah bayn al-Usūl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf.
  3. al-Tausyīh/Quwt al-Habīb al-Gharīb syarah Fath al-Qarīb al-Mujīb.
  4. Marāqi al-‘Ubūdiyyah syarah Matan Bidāyah al-Hidāyah.
  5. Nashāih al-‘Ibād syarah al-Manbahātu ‘ala al-Isti’dād li yaum al-Mi’ād.
  6. Qāmi’ al-Thugyān syarah Mandhūmah Syu’bu al-Imān.
  7. al-Tafsir al-Munīr li al-Mu’ālim al-Tanzīl al-Mufassir ‘an wujūĥ mahāsin al-Ta ́wil musammā Marāh Labīd li Kasyaf Ma’nā Qur ́an Majīd.
  8. Nur al-Dhalām ‘ala Mandhūmah al-Musammāh bi ‘Aqīdah al-‘Awwām.
  9. Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts.
  10. ‘Uqūd al-Lujain fi Bayān Huqūq al-Zaujain.

b. Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari

1. Riwayat Hidupnya

Nama lengkapnya Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari. Beliau dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, pada tanggal 3 Juli 1626, sedangkan tempat wafatnya di Cape Town, Afrika Selatan, pada tanggal 23 Mei 1699 pada usia 72 tahun. Beliau dijadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sementara di kalangan rakyat Sulawesi Selatan, mendapatkan gelar sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”).

Syekh Yusuf lahir dari ayah-ibu bernama Abdullah dan Aminah. Nama saat dilahirkan adalah Muhammad Yusuf. Konon, nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin (berkuasa sejak 1593M, wafat 15 Juni 1639 M, raja Gowa pertama yang masuk Islam, yang masih kerabat dari ibu Syekh Yusuf. Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba Alawi bin Abdul al-Allamah Attahir dan Sayyid Jalaludin Al-Aidid.

Kembali dari Gowa, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu saat usianya 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten, sahabatnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa, yang kelak mengangkatnya sebagai Mufti Kesultanan Banten. Selanjutnya, Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin ar-Raniri dan mendalami tarekat Qadiriyah.

Tahun 1644 M, Syekh Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Makkah untuk beberapa lama, lalu belajar kepada ulama terkemuka di Makkah dan Madinah, termasuk juga memperdalam ilmu ke Yaman, berguru pula kepada Syekh Abdullah Muhammad bin Abdul Baqi, dan ke Damaskus (Suriah) untuk berguru pada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati Al-Quraisyi.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Ketekunan, penjelajahan, dan ikhtiarnya dalam menuntut ilmu, dapat kita jadikan contoh. Betapa tidak! Syekh Yusuf mempelajari Islam sekitar 20 tahun di Timur Tengah. Pencapaian itu, sangat luar biasa, apalagi jika kita kaji dari sisi waktu, Syekh Yusuf melakukan itu sekitar abad 17. Lagi-lagi, kalian sebagai penerus bangsa, dapat meneladani jejak langkah Syekh Yusuf dalam ikhtiarnya saat menuntut ilmu.

Saat Kesultanan Gowa kalah perang dari Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten. Pada periode ini, Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Pada September 1684 M, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka. Di negeri itu, Syekh Yusuf tetap berdakwah, sehingga memiliki murid ratusan yang berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, yang merupakan santrinya adalah Syekh Ibrahim bin Mi’an.

Melalui jamaah haji yang singgah di Srilanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, akhirnya oleh Belanda, diasingkan yang lebih jauh lagi. yakni Afrika Selatan yang terjadi pada bulan Juli 1693.

Lagi-lagi Syekh Yusuf masih tetap berdakwah Di Afrika Selatan, pengikutnya banyak sekali. Saat beliau wafat tanggal 23 Mei 1699 M, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709 M) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705 M. Kemudian Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto.

Selanjutnya, pada tahun 2009, Syech Yusuf dianugerahi penghargaan Oliver Thambo, yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI pada waktu, M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.

3. Karya Tulisnya

Syekh Yusuf dikenal juga sebagai mursyid (pembimbing) tarekat Khalwatiyah. Beliau juga mengajarkan tarekat lainnya, antara lain: Qadiriyah, Naqshabandiyah, Ba‘lawiyah, dan Syathariyah. Itu semua sesuai ijazah yang pernah diterimanya.

Ajaran pokoknya adalah usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. yang mengacu pada peningkatan kualitas akhlak yang mulia serta penekanan amal shalih dan dzikir, baik secara perorangan maupun kelompok. Penjelasan lebih rinci dapat ditemukan pada risalahnya yang berjudul An-Nafhatu As Sailaniyah.

Khusus berkaitan dengan tata cara melakukan dzikir, salah satu amalan terpenting dalam tarekat, diuraikan dalam risalahnya berjudul Kaifiyāt al-Dzikir (Cara-cara Berdzikir). Menurutnya, ada 20 macam adab berdzikir. Lima di antaranya mengenai hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum berdzikir. Lima macam itu, sebagai berikut.

Pertama, bertaubat dari segala dosa; Kedua, berwudhu jika hadas (besar dan kecil), Ketiga, mandi jika junub; Keempat, berdiam diri tidak bicara, kecuali mengucapkan kalimat dzikir; serta Kelima, memohon (berdoa) hanya kepada Allah Swt.

Selain beberapa risalah tersebut, sedikitnya ada 20 judul buku yang ditulis Syekh Yusuf. Hampir semuanya berbahasa Arab. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Zubdād al-Asrār fī Tahqīq Ba’d Masyārib al-Akhyār.
  2. Tāj al-Asrar fī Tahqīq Masyrab Al ‘Ārifīn min Ahl al-Istibshār.
  3. Mathālib as-Sālikīn, Fath Kaifiyyah az-Dzikr.
  4. Safīnat an-Najah, menjadi karyanya yang paling populer, yang hingga kini masih banyak diajarkan di berbagai pesantren. Di Museum Pusat Jakarta, juga didapati sekitar 10 manuskrip Syekh Yusuf yang belum diterjemahkan.

c. Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani

1. Riwayat Hidupnya

Syekh Abdus Samad dilahirkan di Palembang (kini masuk wilayah Sumatera Selatan) pada tahun 1116 H/1704 M, dan wafat pada tahun 1203 H/1789 M dalam usia 85 tahun. Beliau mendapat pendidikan dasar dari ayahnya sendiri di Palembang atau Kedah (Malaysia).

Jika ditelaah dari silsilah, nasab Syekh Abdus Samad berketurunan Arab, dari jalur ayah. Nama ayahnya adalah Syeikh Abdul Jalil, yang merupakan ulama yang berasal dari Yaman, yang dilantik menjadi Mufti Negeri Kedah (kini Malaysia) pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, bernama Radin Ranti, adalah wanita asli Palembang.

Sementara, nama panjangnya terdapat 3 versi, yakni: Abdus Samad al-Jawi al-Falembani, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Falembani, dan Sayyid Abdus Samad bin Abdurrahman al-Jawi.

Pendidikannya dilanjutkan di salah satu pondok di Negeri Pattani (kini masuk wilayah Thailand Selatan). Saat itu, di Pattani menjadi pusat menempa ilmu-ilmu keislaman, setelah dari Pattani, beliau langsung belajar ke Arab (Makkah dan Madinah).

Di Pattani, beliau mendapatkan ilmu-ilmu dasar, seperti hafalan Matan Ilmu-Ilmu Arabiyah, dilanjutkan di bidang Syariat Islam dimulai dengan matan-matan ilmu fiqh yang bermadzhab Imam Syafi’i.

Selanjutnya, di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/ushuluddin menurut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja/Sunni) yang bersumber dari Syekh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi, karena kecerdasannya saat di Pattani, beliau sudah diperbolehkan sebagai pengajar, meskipun masih sebatas menjadi Mentor atau Tutor.

Syekh Muhammad bin Samman menjadi gurunya, Sykh Abdus Samad mendalami juga kitab-kitab tasawuf kepada Syeikh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin al-Sumaterani, kedua-duanya dari Aceh. Sejak kecil, beliau lebih mendalami ilmu tasawuf, maka sejarah mencatatnya sebagai ulama yang memiliki kepakaran dan keistimewaan di cabang ilmu tersebut.

Syekh Abdus Samad merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara Indonesia. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya, misalnya Nuruddin ar-Raniri, Muhammad Arsyad al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf al-Makasari, dan masih banyak lainnya.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Sesampai di Makkah dan Madinah, semangat belajarnya semakin giat. Ia mempelajari dan menyerap beberapa ilmu yang belum dikuasai, dan memperdalam ilmu-ilmu yang sudah dikuasainya dari guru dan ulama yang terkenal dengan sebutan Jazirah Arab. Namun, beliau tidak melupakan negeri asalnya. Syekh Abdus Samad tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara Indonesia.

Beliau mengalami perubahan besar berkaitan dengan intelektualitas dan spiritual. Capaian itu tidak terlepas dari semangat dan proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Beberapa gurunya yang masyhur dan berwibawa dalam proses tersebut, antara lain Muhammad bin Abdul Karim al-Sammani, Muhammad bin Sulayman al-Kurdi (Irak), dan Abdul al-Mun ́im Damanhuri.

Selain itu, tercatat juga dalam sejarah bahwa beliau berguru juga kepada ulama besar yang lain, di antaranya Ibrahim al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad al-Jawhari, dan Athaullah al-Mashri (Mesir). Hasilnya tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu di Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya, mengangkat dirinya menjadi salah seorang ulama Nusantara yang disegani dan dihormati di kalangan ulama Arab, juga Nusantara Indonesia.

Berdasarkan jejak langkahnya, kita menjadi sadar bahwa capaian besar, diperoleh dari ikhtiar dan usaha yang penuh kesungguhan, bertanggung jawab, serta selektif dalam memilih guru. Itu baru usaha lahir, sedangkan usaha dan olah batin tentu tidak dilupakan, baik dari pribadi maupun mohon doa dari para guru-gurunya. Berkat capaian Syekh Abdus Samad, sekali membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak kalah prestasinya dengan bangsa lain di dunia.

3. Karya Tulisnya

Syekh Abdus Samad termasuk pengarang yang produktif. Karyanya yang terkenal dan sampai saat ini masih dipergunakan adalah Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin. Kedua kitab tersebut, merupakan penjelasan dari 2 kitab karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, yakni Bidāyat al-Hidāyah dan Lubāb Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn.

Adapun kitab dan karyanya yang lain, sebagai berikut:

  1. Zahratul Murīd fi Bayāni Kalimah al-Tauhīd, 1178 H/1764 M.
  2. Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/1765 M.
  3. Hidāyatus Sālikīn fī Sulūki Maslakil Muttaqīn, 1192 H/1778 M.
  4. Siyārus Sālikīn ilā ‘Ibādati Rabbil ‘Alamīn, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M.
  5. Al-‘Urwatul Wutsqā wa Silsilatu Waliyil Atqā.
  6. Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani.
  7. Nashīhatul Muslimīna wa Tazkiratul Mu’minīna fi Fadhāilil Jihādi wa Karāmatil Mujtahidīna fī Sabīlillah.
  8. Ar-Risālatu fī Kaifiyatir Rītib Lailatil Jum’ah.
  9. Mulhiqun fī Bayāni Fawaidin Nafi’ah fī Jihādi fī Sabīlillah.
  10. Zātul Muttaqin fī Tauhidi Rabbil ‘Alamīn.
  11. ‘Ilmut Tasawuf.
  12. Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalātu was Salām.
  13. Kitab Mi’raj.
  14. Anisul Muttaqin.
  15. Puisi Kemenangan Kedah.

d. Nuruddin bin Ali ar-Raniri

1. Riwayat Hidupnya

Nama lengkapnya Syekh Nuruddin Muhammad bin ‘Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi. Jika ditelaah dari namanya, beliau memiliki darah keturunan (nasab) dari suku Quraisy, suku yang juga menurunkan Nabi Muhammad Saw.

Ayahnya adalah seorang pedagang Arab yang bergiat dalam pendidikan agama, sedangkan nama populernya adalah Syekh Nuruddin Ar-Raniri atau Syekh Nuruddin, beliau adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).

Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, wilayah Gujarat India, dan wafat pada 21 September 1658 M. Pada tahun 1637 M, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di daerah tersebut sampai tahun 1644 M.

Syekh Nuruddin mula-mula mempelajari bahasa Melayu di Aceh, lalu memperdalam pengetahuan agama saat beribadah haji ke Makkah. Sepulang dari Makkah, didapati bahwa pengaruh Syamsuddin as-Sumatrani sangat besar di Aceh. Karena tidak cocok dengan aliran wujudiyah (salah satu aliran tasawuf), Syekh Nuruddin pindah ke Semenanjung Malaka untuk memperdalam ilmu agama dan bahasa Melayu.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Pengetahuan Syekh Nuruddin tak terbatas dalam satu cabang ilmu saja, namun sangat luas yang meliputi bidang sejarah, politik, sastra, filsafat, fikih, dan mistisisme (tasawuf). Beliau adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17.

Peranan Syekh Nuruddin dalam perkembangan Islam di Nusantara tidak dapat diabaikan. Dia berperan membawa tradisi besar Islam sembari mengurangi masuknya tradisi lokal ke dalam tradisi yang dibawanya. Tanpa mengabaikan peran ulama lain yang lebih dulu menyebarkan Islam di wilayah ini, beliau berupaya menghubungkan satu mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam Nusantara.

Bahkan, Syekh Nuruddin merupakan ulama pertama yang membedakan penafsiran doktrin dan praktik sufi yang salah dan benar. Saat baru tiba di Aceh, di wilayah tersebut telah berkembang luas paham wujudiyah. Paham ini dianut dan dikembangkan oleh Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.

Pada tahun 1637 M, ia kembali ke Aceh dan tinggal selama tujuh tahun. Saat itu Syekh Syamsuddin as-Sumatrani telah meninggal. Berkat keluasan pengetahuannya, Sultan Iskandar Tani (1636 M-1641 M) mempercayainya untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Syamsuddin. Nuruddin menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti Besar, ditambah jabatan sebagai Syekh di Masjid Bait al-Rahmān.

3. Karya Tulisnya

Syekh Nuruddin menulis beberapa buah kitab. Ia juga membaca Hikayat Seri Rama dan Hikayat Inderaputera, yang kemudian dikritiknya dengan tajam, serta Hikayat Iskandar Zulkarnain. Beliau juga membaca Tāj as-Salātīn karya Bukhari al-Jauhari dan Sulālat as-Salātīn yang populer pada masa itu. Kedua karya ini, memberi pengaruh yang besar pada karyanya sendiri, yakni Bustān as-Salātīn.

Sebagai ikhtiar menyanggah pendapat dan paham wujudiyah, Syekh Nuruddin menulis beberapa kitab, antara lain Asrār al-‘Ārifīn (Rahasia Orang yang Mencapai Pengetahuan Sanubari), Syarāb al-‘Asyiqīn (Minuman Para Kekasih), dan Al-Muntahi (Pencapai Puncak). Di samping itu, ia juga menyanggah ajaran Hamzah Fanzuri melalui polemik-polemik terbuka dengan para pengikut wujudiyah.

Sesudah berpolemik selama sekitar satu bulan, Syekh Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh untuk kembali ke tanah kelahirannya di Ranir, daerah Gujarat India, sehingga ia tidak sempat menyelesaikan karangannya yang berjudul Jawāhir al-‘Ulūm fī Kasyfi al-Ma‘lūm (Hakikat Ilmu dalam Menyingkap Objek Pengetahuan).

Syekh Nuruddin juga menulis beberapa kitab khusus untuk melawan aliran wujudiyah, antara lain Hill az-Dzill (Sifat Bayang-bayang), Syifā al-Qulb (Pengobatan Hati), Tibyān fī Ma‘rifāt al-Adyān (Penjelasan tentang Kepercayaan), Hujjāt al-Siddiq li Daf az-Zindiq (Pembuktian Ulama dalam Membantah Penyokong Bid’ah), Asrār al-Insān fī Ma‘rifāt ar-Rūh wal ar-Rahmān (Rahasia Manusia dalam Pengenalan Ruh dan Yang Maha Pengasih).

Secara keseluruhan, Nuruddin Ar-Raniri menulis sekitar 30 naskah buku, di antaranya adalah:

  1. Al-Shirāth al-Mustaqīm.
  2. Durrat al-Farāid bi syarh al-‘Aqāid an-Nasafiyah.
  3. Hidāyat al-Hābib fi al Targhib wa’l-Tarhib.
  4. Bustanus al-Shalathin fī Dzikr al-Awwālin wa al-Ākhirīn.
  5. Nubdzah fi Da’wah al-Dzill ma’a Shāhibihi.
  6. Lathā’if al-Asrār.
  7. Asrāl an-Insān fī Ma’rifāt al-Rūh wa al-Rahmān.
  8. Tibyān fī Ma’rifat al-Adyān.
  9. Akhbār al-Ākhirah fi Ahwāl al-Qiyāmah.
  10. Hill al-Dzhill.
  11. Ma’u’l Hayat li Ahl al-Mamāt.
  12. Jawāhir al-‘Ulūm fī Kasyfi’ al-Ma’lūm.
  13. Aina’l-‘Alam Qabl an-Yukhlaq.
  14. Syifā’ al-Qulūb.
  15. Hujjat al-Shiddīq li daf’i al-Zindīq.
  16. Al-Fat-hu’l-Mubīn ‘a’l-Mulhiddīn.
  17. Al-Lama’an fi Takfir Man Qala bi Khalg al-Qur’an.
  18. Shawarim al-Shiddīq li Qath’i al-Zindīq.
  19. Rahīq al-Muhammadiyyah fī Tharīq al-Shufiyyah.
  20. Ba’du Khalq al-samawāt wa al-Ardh.
  21. Kaifiyat al-Shalāt.
  22. Hidāyat al-Īmān bi Fadhli al-Manān.
  23. ‘Aqā’id al-Shufiyyat al-MuwahhiddĪn.
  24. ‘Alaqat Allah bi al-‘Alam.
  25. Al-Fat-hu’l-Wadūd fī Bayān Wahdat al-Wujūd.
  26. ‘Ain al-Jawād fī Bayān Wahdāt al-Wujūd.
  27. Awdhah al-Sabīl wa al-Dalil laisal li Abathil al-Mulhiddīn Ta’wīl.
  28. Awdhah al-Sabīl laisan li Abathil al-Mulhiddīn Ta’wīl.
  29. Syadar al-Mazīd.

e. Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili

1. Riwayat Hidupnya

Nama populernya adalah Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (Singkil, Aceh). Tahun lahirnya adalah 1024 H/1615 M, sementara wafatnya di Kuala Aceh, Aceh Tahun 1105 H/1693 M). Beliau adalah ulama besar Aceh, dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatra dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Tengku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala).

Adapun nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali al-Jawi Tsumal Fansuri as-Singkili. Sebagian riwayat menyebutkan, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Namun, belum dapat dipastikan karena minimnya catatan sejarah, serta tidak didukung nama keluarga yang mencirikan keturunan Arab ataupun Persia.

Beberapa ahli berpendapat, beliau merupakan putra asli pribumi beretnis Minang Pesisir di Singkil yang yang telah menganut agama Islam pada masa itu. Pendapat lain, mengatakan berasal dari etnis Batak Singkil yang beragama Islam yang tidak diketahui lagi marganya.

Pada masa mudanya, mula-mula belajar kepada ayahnya sendiri. Kemudian belajar kepada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses lawatannya, belajar juga kepada banyak ulama di Timur Tengah.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Diperkirakan Syekh Abdul Rauf kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M, dan mengajarkan serta mengembangkan Tarekat Syathariah yang diperolehnya. Banyak santri dan murid yang berguru kepadanya, dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatra Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

Syekh Abdul Rauf menjadi rujukan penting para mubalig yang merintis dakwah ke berbagai daerah di Nusantara. Hal itu sejalan dengan sifat strategis Aceh sebagai poros peradaban Islam di Kepulauan Indonesia. Saat itu, Aceh merupakan tempat persinggahan para calon jamaah haji asal Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.

Disebabkan peran besar tersebut, Syekh Abdul Rauf dapat dikatakan sebagai Poros sejumlah ulama Nusantara. Salah seorang muridnya adalah Syekh Burhanudin Ulakan (1646 M-1692 M). Setelah belajar di Aceh, mubalig asal Pariaman itu berangkat ke Tanah Suci. Sepulangnya dari Haramain, dia mendirikan surau di Ulakan. Jasanya yang paling dikenang adalah mendakwahkan Islam kepada kaum bangsawan Kerajaan Pagaruyung.

Murid lainnya adalah Syekh Abdul Muhyi. Mubaligh asal Jawa Barat itu pernah bermukim di Aceh, untuk kemudian berangkat ke Tanah Suci untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Sempat pula dia berkunjung ke Baghdad (Irak) untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qadir Jailani (1077 M-1166 M). Sepulangnya dari rihlah keilmuan itu, Abdul Muhyi menyebarkan dakwah Islam, termasuk tarekat Syathariyah, di Jawa Barat.

Tokoh berikutnya adalah Abdul Malik bin Abdullah (1678-1736) dari Semenanjung Melayu dan Dawud al-Jawi ar-Rumi. Keduanya juga berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah haji sekaligus pengembangan keilmuan. Akhirnya kiprah Abdul Malik banyak di bidang syariat dan fikih. Sementara, Dawud al-Jawi yang diduga berasal dari Turki, dijadikan sebagai wakil utama dari tarekat Syathariyah sepeninggal wafatnya Syekh Abdur Rauf.

3. Karya Tulisnya

Menurut Azyumardi Azra (Akademisi UIN Jakarta) menyatakan bahwa banyak karya-karya Syekh Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah:

  1. Mir’at al-Thullāb fī Tasyil Mawā’iz al-Badî’rifat al-Ahkām al-Syar’iyyah li Mālik al-Wahhāb, karya ini berisi tentang bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
  2. Tarjuman al-Mustafīd, merupakan naskah pertama Tafsir Al-Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
  3. Terjemahan Hadits Arba’in karya Imam al-Nawawi, ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
  4. Mawā’iz al-Badī’, berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak.
  5. Tanbīh al-Masyi, merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
  6. Kifāyat al-Muhtajin ilā Masyrah al-Muwahhidīn al-Qāilīn bi Wahdatil Wujūd, memuat penjelasan tentang konsep wahdatul wujud.
  7. Daqāiq al-Hurf, pengajaran mengenai tasawuf dan ilmu kalam (akidah).

Di antara karya besar Syekh Abdu Rauf adalah Tarjuman al-Mustafīd. Itulah terjemahan dan tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Melayu. Kitab tersebut banyak dipengaruhi karya Abdullah bin Umar bin Muhammad Syairazi al-Baidawi (w. 1286 H), yakni Tafsir Anwār al-Tanzil wa Asrār al-Ta’wīl, yang dalam bahasa Arab dan memang sudah legendaris di penjuru dunia.

Namun, karya tulis syekh asal Aceh itu juga tidak kalah terkenal. Sebagai contoh, Tarjuman al-Mustafīd diketahui pernah terbit pada 1884 M/1885 M dalam edisi dua jilid di Istanbul, Turki.

Adapun karya-karyanya yang lain juga menjadi bacaan penting, baik oleh alim ulama maupun sultan-sultan Melayu. Di samping itu, mubalig kelahiran Singkel ini, juga kerap memanfaatkan sastra sebagai medium penyebaran gagasan sufistik. Sebuah syair karyanya yang terkenal adalah Syair Ma’rifat yang salinannya ditulis di Bukittinggi pada tahun 1859 M.

f. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani

1. Riwayat Hidup

Di kalangan ulama atau masyarakat awam, orang sering menyebutnya dengan nama Mbah Sholeh Darat. Kata “Darat” pada akhir nama beliau, disebabkan beliau tinggal di daerah yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang. Saat ini,daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat.

Mbah Sholeh Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sementara, informasi yang lain menyebutkan, beliau lahir di Dukuh Kedung Cumpleng, Desa Ngroto, Kecamatan Mayong, Jepara. Beliau wafat di Semarang pada 28 Ramadan 1321 H/18 Desember 1903 M.

Nama lengkapnya adalah Al-’Alim Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi asy-Syafi’i. Jika dari namanya yang panjang, mengindikasikan bahwa beliau merupakan seorang Ulama Besar di Jawa. Nama Ayahnya adalah Kiyai Umar yang merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara Semarang.

Hasil didikan Mbah Sholeh Darat, dapat ditelusuri dari nama-nama berikut ini, yang merupakan tokoh-tokoh besar Indonesia, antara lain: Hadratu Syekh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH Amir Idris (pekalongan), KH Dahlan Tremas, KH Dimyathi Tremas, KH Dalhar Watucongol (Magelang).

Selanjutnya, KH Bisri Syansuri (Jombang), KH Kholil (Lasem Rembang), KH Sya’ban (semarang), KH Abdus Syakur Senorita (Tuban), KH Yasir Jekulo (Kudus), dan KH Thoyib (Mranggen Demak). Jangan dilupakan juga, termasuk hasil didikan beliau adalah tokoh emansipasi wanita Indonesia, yakni R.A. Kartini.

Kiai Sholeh juga menjadi salah satu pengajar di Makkah. Muridnya berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Jawa dan Melayu. Hal ini tentu membanggakan, kita sebagai generasi penerus telah disuguhi banyak tokoh besar Indonesia, karena itu menjadi kewajiban kita untuk dapat mencontoh dan meneladani capaian dan keberhasilan mereka, baik di level nasional, regional maupun mancanegara.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Kiai Sholeh Darat menimba ilmu di pesantren-pesantren pada zamannya, beliau banyak berjumpa dengan kiai-kiai masyhur yang dikenal memiliki kedalaman serta keluasan ilmu batin (tasawuf), yang kemudian dijadikan sebagai gurunya di Nusantara Indonesia, antara lain KH. M. Sahid yang merupakan cucu dari Syaikh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama besar dari daerah Pati Jawa Tengah sekitar abad ke-18.

Beliau juga berguru kepada KH. Syahid Waturoyo, KH. Muhammad Shaleh Asnawi (Kudus), KH. Haji Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Baguni, KH Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan KH Abdul Ghani Bima.

Beliau juga menimba ilmu ke gurunya yang di mancanegara, khususnya di wilayah Hijaz (Jazirah Arab Saudi Arabia), antara lain Syeikh Muhammad al-Muqri, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Ahmad Nahrowi, Sayid Muhammad Saleh bin Sayid Abdur Rahman Az-Zawawi, Syeikh Zahid, Syeikh Umar asy-Syami (Suriah dan Palestina) Syeikh Yusuf al-Mishri (Mesir).

Berdasarkan penjelasan tersebut, banyak hal yang dapat dicontoh dari Syekh Shaleh Darat, antara lain:

  • Pengembaraan ilmunya melalui guru atau ulama yang sudah masyhur, berguru kepada ulama yang bukan sekedar dalam ilmunya, tetapi juga memiliki sangat baik amal ibadah dan akhlak yang dimiliki guru-gurunya.
  • Tidak puas hanya menimba ilmu ulama dari Nusantara, tetapi sampai ke mancanegara, khususnya negara-negara di kawasan Timur Tengah, karena pusat Islam pada waktu adalah di wilayah-wilayah tersebut.
  • Beliau juga mendidik wanita-wanita muslim, terbukti beliau berhasil melambungkan nama RA. Kartini menjadi tokoh emansipasi wanita Indonesia, padahal pada waktu itu Nusantara masih di bawah cengkeraman penjajah Belanda yang umumnya menjadikan wanita sebagai warga “‘kelas dua”.

3. Karya Tulisnya

Syekh Kyai Sholeh Darat termasuk ulama yang produktif, banyak karya lahir darinya. Di antara kitab atau karya tulis beliau adalah:

  1. Kitab Munjiyat, tentang tasawuf, ringkasan dari penjelasan kitab Ihya’ Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali.
  2. Syarh Kitab al-Hikam, juga tentang tasawuf, merupakan penjelasan dari kitab al-Hikam karangan Syekh Ibnu Atha’illah al-Askandari.
  3. Latha’if at-Thaharah tentang hukum bersuci.
  4. Kitab ash-Shalah, membicarakan tata cara mengerjakan shalat.
  5. Tarjamah Sabil al-Abid ala Jauharah at-Tauhid, menjelasakan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan mengacu Imam Abul Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.
  6. Mursyid al-Wajiz, kandungannya membicarakan tasawuf atau akhlak.
  7. Minhaj al-Atqiya’, juga tentang tasawuf dan akhlak.
  8. Kitab Hadis al-Mi’raj, tentang perjalanan Nabi Muhammad s.a.w untuk menerima perintah shlata fardhu.
  9. Kitab Asrar al-Shalah, kandungannya membicarakan rahasia-rahasia shalat.
  10. Faid ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir al-Kalam al-malik al-Dayyan yang merupakan tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Dan kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seroang Bupati Rembang.
  11. Kitab Manasik al-Haj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin. Kitab ini, membahas ibadah haji dan umrah yang berisi 64 halaman dengan 17 topik yang dikupas dimulai dari bab Kitab Haj wa al-Umrah hingga al-Khatimah (penutup). Kitab ini diterbitkan di Bombai India pada tahun 1340 H/1922 M.
  12. Kitab Majmu’ah al-Syari’ah al-Kafiyah li al-’Awam. Isinya hampir mirip dengan karyanya yang terdahulu, yakni tentang haji. Kitab ini diterbitkan oleh penerbit Karya Toha Putra Semarang, sayangnya tidak ditemukan tahun kapan diterbitkan.

g. Hamzah al-Fansuri

1. Riwayat Hidup

Nama populernya Syekh Hamzah Fansuri, atau Hamzah al-Fansuri. Nama al-Fansuri sendiri berasal dari Arabisasi kata Pancur, sebuah kota kecil di pantai Barat Sumatra yang kini terletak antara Singkil (Aceh) dan Sibolga (Sumatra Utara). Merujuk zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bagian Aceh Selatan.

Beliau berasal dari Barus (saat ini di provinsi Sumatera Utara). Di jaman itu, wilayah Barus sering disinggahi para saudagar dan musafir dari mancanegara. Bahkan, disebut oleh Sastrawan Abdul Hadi, signifikansinya sudah tercantum dalam naskah sejarah Yunani Kuno yang ditulis pada abad kedua sebelum Masehi (SM).

Namun, ada pula yang berpendapat lain, bahwa Hamzah Fansuri dilahirkan di Ayuthia, ibukota lama kerajaan Siam (Thailand). Seperti pendapat Syed Naguib al-Attas, bahwa keluarganya memang berasal dari Barus, tetapi dirinya sendiri lahir di Syahr Nawi, yakni Ayuthia, ibu kota Kerajaan Siam yang berdiri pada 1350.

Sepanjang hayatnya, Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia. Bahasa Arab dan Persia merupakan bahasa penting pada abad ke-16. Saat itu, di Barus sudah berkembang suatu dialek bahasa Melayu yang unggul, di samping dialek Malaka dan Pasai. Oleh karena itu, bahasa Melayu yang dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya dapat dianggap contoh terbaik ragam bahasa Melayu.

2. Teladan yang dapat dicontoh

Sepanjang hayatnya, Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia. Bahasa Arab dan Persia, merupakan bahasa penting pada abad ke-16, termasuk mengenai tasawuf Islam.

Di Barus pada masa itu, sudah berkembang suatu dialek bahasa Melayu yang unggul, di samping dialek Malaka dan Pasai. Oleh karena itu, bahasa Melayu yang dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya dapat dianggap contoh terbaik ragam bahasa Melayu Barus.

Semua pegiat Sastra Nusantara menyebut bahwa Hamzah Fansuri adalah penyair agung di rantau Sumatera. Disebutkan oleh A Teeuw, ketika Valentijn (seorang sarjana Belanda) mengunjungi Barus pada 1706, ia membuat catatan yang menunjukkan kekagumannya kepada sang penyair.

“Seorang penyair Melayu, Hamzah Pansur, adalah sosok terkemuka di lingkungan orang-orang Melayu, karena syair dan puisinya yang menakjubkan. Kita dibuat dekat kembali dengan kota kelahiran sang penyair, jika mengangkat naik timbunan debu kebesaran dan kemegahan masa lampau,” tulis Valentijn.

3. Karya Tulisnya

Syekh Hamzah Fansuri merupakan figur penting dalam sejarah kebudayaan Melayu-Indonesia. Kemasyhurannya meliputi banyak bidang, yakni kesusastraan, tasawuf, dan dakwah Islam. Namun, sedikit sekali yang dapat memastikan detail riwayat hidup sang perintis tradisi penulisan syair berbahasa Melayu itu.

Berikut ini, sedikir rincian karya beliau yang terkait dengan kesusatraan Melayu:

Syair Hamzah Fansuri terdiri atas 13-21 bait. Setiap bait terdiri atas empat baris, yang berima a-a-a-a. Pada umumnya jumlah kata tiap baris ada empat, meskipun terdapat pengecualian. Syair Hamzah al-Fansuri banyak dipengaruhi puisi-puisi Arab dan Persia (seperti rubaiyat karya Umar Khayyam), namun tetap ada perbedaan, yakni: Rima Rubaiyat adalah a-a-b-a, sedangkan Hamzah al-Fansuri memakai rima a-a-a-a.

Selanjutnya, jika ditelaah dari segi tema setiap syair yang dikarang Hamzah al-Fansuri, lebih banyak membahas tentang aspek tasawuf. Hal ini, dikarenakan bidang lain yang diminati adalah tasawuf, selain sastra dan dakwah Islam.

Hamzah Fansuri banyak melakukan kreasi atau inovasi baru, yang sebelumnya tidak dikenal dalam sastra Melayu lama. Misalnya, memperkenalkan bentuk puisi baru untuk mengekspresikan diri. Inovasi lain adalah pemakaian bahasa yang kreatif. Hamzah Fansuri tidak segan-segan meminjam kata-kata dari bahasa Arab dan Persia dalam puisinya.

Adapun karya-karya Syekh Hamzah Fansuri yang sampai saat ini masih dapat ditelaah, dikaji dan dinikmati adalah:

Kelompok Puisi:

  1. Syair Burung Unggas.
  2. Syair Dagang.
  3. Syair Perahu.
  4. Syair Si Burung pipit.
  5. Syair Si Burung Pungguk.
  6. Syair Sidang Fakir.

Kelompok Prosa:

  1. Asrar al-‘Arifin.
  2. Sharab al-‘Asyikin.
  3. Kitab al-Muntahi/Zinat al-Muwahidin.

Syair Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Bait-Ka’bah
Di Barus ke Qudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah


Itulah materi tentang Ulama Indonesia untuk Dunia. Semoga materi ini dapat membantu Anda dalam belajar, dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *