Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia
Materi Pelajaran, Pendidikan Agama Islam

Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia

Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia – Kelas 10, PAI, Bab 5, Meneladani Peran Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia.


Nilai Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia

Banyak nilai-nilai keteladanan dari para tokoh penyebar Islam di Indonesia. Di antara nilai keteladanan tersebut adalah:

a. Hidup sederhana

Para ulama penyebar Islam di Indonesia hidup secara sederhana dan bersahaja, meskipun hartanya melimpah. Mereka menyedekahkan semua harta, dengan terlebih dahulu mengambil secukupnya untuk kebutuhan pokok. Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman agar menyedekahkan hartanya sebagaimana tercantum dalam Q.S. al-Baqarah/2: 267 berikut ini.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji”. (Q.S. al-Baqarah/2: 267)

Perintah Allah Swt. di atas sudah dilakukan oleh para sahabat Nabi Saw., seperti Abu Bakar r.a., Ustman bin Affan r.a., Umar bin Khattab r.a., Ali bin Abi Thalib r.a. dan sahabat lainnya. Mereka gemar bersedekah, dan menjalani hidup secara sederhana.

Berkat kesederhanaan para ulama penyebar Islam di Indonesia, perjuangan dakwah menunjukkan hasil luar biasa. Banyak rakyat jelata, masyarakat miskin, orang awam dengan suka rela memeluk agama Islam. Akhlak para ulama ini patut dicontoh oleh semua kaum muslimin. Apalagi saat ini gaya hidup modern, hedonism, dan materialism sangat kuat mempengaruhi masyarakat.

Seperti diketahui bahwa manusia akan selalu digoda oleh hawa nafsu untuk menguasai dunia. Ibarat minum air laut, semakin diminum akan semakin haus. Menuruti keinginan hawa nafsu duniawi tidak akan ada selesainya. Hari ini memiliki emas, esok ingin merengkuh berlian. Ketika berlian sudah dimiliki, kepuasan hanya sekejap saja, karena akan terus merasa kurang. Memiliki gadget bagus, tapi merasa kurang karena melihat gadget orang lain lebih bagus, demikian seterusnya.

Sungguh tak akan ada yang mampu menghentikan keinginan tak berujung ini, kecuali kematian. Saat itulah, semua ambisi duniawi sirna seketika. Ia meninggalkan dunia ini dengan membawa beberapa lembar kain kafan saja. Rumah, emas, berlian, jabatan, keluarga dan semua isi dunia ini ditinggalkan begitu saja. Padahal selama hidup di dunia, ia mati-matian untuk meraihnya.

b. Gigih dalam berjuang

Untuk meraih keberhasilan dalam menyebarkan Islam di Indonesia diperlukan kegigihan dan tekad kuat. Ulama penyebar Islam di Indonesia telah menunjukkan sikap bersemangat pantang menyerah, gigih dalam memperjuangan ajaran Islam. Tak dapat dipungkiri, untuk meraih suatu cita-cita dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan panjang. Hambatan dan tantangan bukan untuk ditakuti, tapi diselesaikan dengan cara yang tepat. Allah Swt. tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya. Hal ini sesuai firman Allah Swt. dalam Q.S. ar-Ra’d/13:11 berikut ini.

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Artinya:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (Q.S. ar-Ra’d/13: 11)

Para ulama lebih mengutamakan kelancaran dakwah daripada kepentingan pribadi dan keluarganya. Kesenangan duniawi diabaikan demi keberhasilan dakwah. Medan dakwah yang berat berupa lautan, hutan belatara, dan ancaman musuh tidak menyurutkan tekad perjuangan dakwah. Mereka optimis mampu melaksanakan tugas dakwah dengan baik.

Kegigihan dalam berjuang harus diikuti dengan sifat optimis dan tawakal kepada Allah Swt. Semua keberhasilan merupakan karunia Allah Swt. yang harus disyukuri, sedangkan kegagalan harus diatasi dengan tawakal kepada-Nya. Semua kesulitan dakwah pasti ada jalan keluarnya. Allah Swt. akan membimbing hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berjalan di atas kebenaran.

c. Menguasai ilmu agama secara luas dan mendalam

Menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang sudah beragama bukanlah persoalan mudah. Adat dan budaya lokal sudah mentradisi begitu kental di masyarakat.

Para ulama melakukan penyesuaian ajaran Islam dengan tradisi lokal tersebut, tanpa menghilangkan adat yang sudah berlaku di masyarakat. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh ulama dengan penguasaan ilmu agama yang mumpuni, luas dan mendalam. Semua itu diperoleh karena ketekunan belajar ilmu agama kepada ahlinya. Mereka berguru kepada para ulama yang jalur keilmuannya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Belajarnya juga tidak instan, namun terprogram melalui tahapan-tahapan yang jelas. Dari ilmu-ilmu dasar hingga mencapai ilmu yang tinggi. Ditempuh dalam kurun waktu yang cukup lama.

Hal ini penting untuk ditiru oleh seseorang yang ingin belajar ilmu agama. Harus ada di antara kaum muslimin yang menekuni ilmu agama (tafaqquh fiddin). Hal ini sesuai firman Allah Swt. dalam Q.S. at-Taubah/9:122 berikut ini.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya:

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”. (Q.S at-Taubah/9:122)

Belajar ilmu agama harus melalui seorang guru yang jalur keilmuannya bersambung sampai Rasulullah Saw. Harus dihindari belajar ilmu agama secara otodidak atau melalui media internet tanpa mengkonfirmasi kebenaran dan keshahihan isinya kepada para alim ulama, kyai atau ustadz. Jika ini dilakukan maka akan berpotensi tersesat dan menyesatkan.

d. Produktif berkarya

Para ulama sangat produktif berkarya lewat ilmu pengetahuan dan amal saleh. Banyak kitab dan tulisan karya mereka yang terus menerus dipelajari oleh santri hingga saat ini. Karya-karya tersebut merupakan wujud kepedulian para ulama dalam menyelamatkan generasi penerus agar terjaga akidahnya dari pengaruh ajaran sesat. Para ulama berusaha meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mendokumentasikan pemikirannya melalui sebuah kitab. Hal ini merupakan bentuk amal jariyah yang akan terus dikenang sepanjang hayat oleh generasi setelahnya.

Nilai manfaat dari karya tersebut dapat diperoleh dengan cara membaca dan mempelajarinya, sehingga menambah wawasan dan khazanah keagamaan. Dalam hal ini, budaya literasi yang dipraktikkan oleh para ulama harus dijadikan inspirasi oleh umat Islam. Membaca dan menulis merupakan dua aktivitas dasar dalam menerapkan budaya literasi. Di era revolusi industri 4.0 saat ini, literasi di bidang teknologi harus terus menerus digelorakan. Hal ini dikarenakan kreativitas dan inovasi teknologi modern sangat penting untuk menopang keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

e. Sabar

Ujian dan cobaan yang dialami oleh para ulama penyebar Islam di Indonesia berhasil dilalui dengan kesabaran. Salah satu hikmah adanya ujian tersebut adalah dapat diketahui tingkat keimanan seseorang. Allah Swt. hendak menguji siapakah di antara hamba-Nya yang terbaik amal-amalnya. Seorang pendakwah harus memiliki tingkat kesabaran tinggi karena menghadapi umat yang memiliki keragaman budaya, etnis, tingkat pendidikan, dan kepribadian.

Seseorang akan diuji oleh Allah Swt. sesuai dengan tingkat keimanannya. Semakin tinggi keimanan, maka semakin berat ujian dari Allah Swt. Keimanan dan kesabaran adalah dua sisi yang menyatu, tidak dapat dipisahkan satu sama lain, diibaratkan seperti kepala dan badan. Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian para wali dan seterusnya sampai pada derajat orang awam.

Pahala sifat sabar sangatlah besar, dan hanya Allah Swt. yang mengetahuinya. Hal ini seperti firman Allah Swt. dalam Q.S. az-Zumar/39:10 berikut ini.

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. (Q.S. Az-Zumar/39:10)

Kesabaran para ulama tampak jelas saat berdakwah kepada masyarakat awam. Mereka mengajarkan ilmu agama dengan cara dan metode sederhana tapi mudah dipahami. Bukan sebatas teori, dengan amat ringan dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

f. Menghargai perbedaan

Islam secara tegas menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama. Semua orang dipersilahkan memilih agama dan kepercayaan masing-masing. Umat beragama saling menghargai dan menghormati perbedaan agama, suku, ras, dan golongan. Tidak merendahkan dan meremehkan agama dan kepercayaan orang lain. Adanya sifat merasa paling hebat merupakan sumber kericuhan dalam kehidupan beragama.

Para ulama penyebar agama Islam di Indonesia sangat toleran terdapat budaya lokal. Masyarakat pribumi yang memeluk agama Islam tetap diperbolehkan melakukan tradisi-tradisi lokal yang sudah diselaraskan dengan ajaran Islam. Dengan demikian tidak ditemukan adanya benturan antara ajaran Islam dengan budaya lokal. Justru sebaliknya, antara ajaran Islam dengan budaya lokal mampu berjalan beriringan.

Sikap toleran akan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial, manusia harus mampu menjalin hubungan yang harmonis antar sesama warga. Sifat saling menghargai perbedaan dapat ditumbuhkan dengan saling mengenal antar umat beragama, ras, suku, dan golongan. Allah Swt. memerintahkan umat-Nya untuk saling mengenal, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Hujurat/49: 13 berikut ini.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti”. (Q.S. al-Hujurat/49:13)

g. Berdakwah secara damai

Islam merupakan agama yang mengajarkan kedamaian, kasih sayang dan toleransi. Dakwah Islam juga harus dilakukan secara damai dan bermartabat. Bukan hanya hasilnya, dakwah Islam juga sangat memperhatikan prosesnya. Proses dakwah harus dilakukan dengan mengedepankan dakwah secara damai, bukan dengan kekerasan dan memaksakan kehendak. Para ulama penyebar Islam di Indonesia menyampaikan ajaran Islam dengan penuh hikmah dan bijaksana. Hal ini sesuai dengan Q.S. an-Nahl/16: 125 berikut ini.

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (Q.S an-Nahl/16: 125)

Pada hakikatnya Islam menghendaki terciptanya kehidupan yang aman, tenteram dan damai. Para ulama sudah mencontohkan hidup yang damai di tengah-tengah masyarakat. Dakwah dilakukan secara damai, penuh rasa hormat terhadap perbedaan dan rasa kemanusiaan. Kalau misalnya terjadi peperangan, semata-mata untuk membela dan mempertahankan kehidupan umat Islam. Dari lisan para ulama, muncul perkataan sejuk penuh hikmah dan doa. Bukan perkataan kasar yang bernada hinaan dan mengandung ujaran kebencian.


Itulah materi tentang Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia. Semoga materi ini (Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia) dapat membantu Anda dalam belajar, dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *